Apa hubungan TPQ dan menyeberang jalan?

Suatu hari di Musim Panas thn 2016, saya mengantar cucu ke TPQ di Masjid Al Hikmah, Den Haag. Mulism di Den Haag mempunyai masjid sendiri yang tadinya gereja mangkrak terus dibeli oleh Probo Sutedjo (terlepas dari kekurangannya) dan diberikan ke masyarakat Indonesia lewat Kedutaan Besar Indonesia di Den Haag. Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk kota2 di Jawa, kota Den Haag relatif kecil hanya berpenduduk sekitar 520 ribu-an.

Muslim cukup lumayan jumlahnya di sini, kalau kita keluar hampir pasti akan ketemu dengan orang2 yg mengenakan hijab, kebanyakan adalah migran dan keturunannya yang sudah  menjadi warga Belanda. Bahkan walikota Rotterdam, kota pelabuhan nomer dua terbesar di dunia dengan penduduk sekitar 600.000 adalah muslim keturunan Maroko. Orang Indonesia tidak banyak yg menjadi warga negara Belanda kecuali orang2 Ambon bekas KNIL yg ternyata di sini tetap saja tidak bisa naik tangga sosial seperti muslim Maroko dan Turki.

Orang-orang Belanda sendiri mulai tertarik dengan Islam. Salah satu contoh yang spektakuler adalah teman si Geert Wilders. Geert Wilders adalah ketua dan pendiri Partai Kebebasan yang sangat anti Islam yg tahun 2008 membuat film Fitna yang sangat menghina Islam itu. Menurutnya sedang terjadi Islamisasi di Belanda dan itu harus dihentikan, dan menurutnya pula kalau orang melihat filmnya pasti akan berbondong-bondong keluar dari Islam. Teman dekatnya yang ikut membuat film itu namanya Arnoud van Doorn.

Melihat reaksi umat Islam yang sangat keras di seluruh dunia thd film tsb, Arnoud van Doorn mulai mempelajari Islam. Allah memberinya hidayah, pada thn 2012 justru dia menjadi muslim! Ketika kemudian dia berhaji ke Mekah, dia berjanji pada para ulama di sana bahwa dia akan mendedikasikan dirinya untuk Islam guna menebus dosanya masa lalu. Sekarang dia adalah ketua European Da’wah Foundation (Yayasan Dakwah Eropa). Tidak berhenti di situ, anak laki-lakinya yg bernama Iskander Amien De Vrie juga menjadi muslim pada tahun 2014 setelah mengamati ayahnya menjadi orang yang lebih tenang, yang berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik setelah menjadi muslim.

Bagitulah Islam, seharusnya bisa merubah pemeluknya menjadi manusia yang lebih baik, lebih humanis, kalau mereka benar-benar mengamalkan Islam. Namun barangkali karena kita lahir sdh Islam, sering kita tidak menyadari keindahan Islam dibanding dengan ideologi yang lain, bahkan tidak/kurang paham dengan Islam itu sendiri. Barangkali saatnya juga kita melihat kurikulum yang diajarkan di sekolah2 Islam/Madrasah agar suatu saat bisa lahir generasi baru Islam yg mempraktekkan nilai-nilai Islam sebagai konsekuensi dari menjalankan rukun Islam karena Allah menjamin bahwa Sholat khusuk itu mencegah perbuatan munkar (tentang sholat khusuk ini sudah sejak jaman Imam Al Ghozali menjadi topik yang tidak pernah lekang, tentang ini menyusul di CATATAN PERJALANAN yang lain).

Anak-anak Indonesia di sini juga belajar membaca Qur’an dg metode Iqra’ di TPQ masjid. Memang tidak se-intensif di Indonesia, namun barangkali lebih kontekstual karena lingkungan yang sekuler ini dalam kehidupan sehari-hari cukup Islami. Cucu saya sekarang kelas 2 SD, tapi sudah menancap di benaknya bahwa kita tidak boleh melanggar aturan umum. Suatu saat ketika lampu utk orang menyeberang berwarna merah dan tidak ada kendaraan yg menunggu. Ketika saya ajak menyebarang, dia menolak karena itu melanggar aturan. Ini hasil pendidikan, hampir semua sikap dan perilaku adalah produk dari suatu pendidikan. Oleh karena itu kita berharap pendidikan yang dikelola oleh Yayasan-yayasan Islam bisa menghasilkan generasi baru yang Islami, tidak hanya dalam ritual akan tetapi bisa menterjemahkannya dalam sikap dan perilaku yang Islami.

(Catatan Perjalanan AI)