Ikon Islami

Kita sering bertanya, mengapa kadang ada jarak yang cukup jauh antara Islam dan muslim? Pernahkah kita dengar ungkapan yang kedengaran menyakitkan “Islam is the solution but muslim is the problem”? Mungkin tidak seluruhnya benar, tapi barangkali juga tidak seluruhnya salah.

Masjid adalah garda depan Islam, namanya saja “rumah Allah”, maka lingkungan masjid haruslah menjadi miniatur masyarakat Islami. Konsep seperti itu yang mendasari pengembangan Masjid Manarul Ilmi ITS, bukan karena berlomba kemewahan atau kehebatan. Ada dua hal mendasar: yaitu pengembangan fisik dan non-fisik.

Dibanding tahun awal 70-an ketika seangkatan saya masih mahasiswa, simbol2 Islam di Kampus berkembang sangat pesat saat ini, Alhamdulillah. Jaman itu hampir tidak ada mahasiswi yg berhijab atau istilah lebih trendy sekarang adalah berbusana Muslim. Embah saya pakai kerudung putih yg tidak memperlihatkan rambutnya kalau keluar karena dia satu-satunya hajjah di desa pada waktu.

Sekarang suasana sangat berbeda, utamanya di kampus2 besar seperti ITS, Unair, dll sebagian besar mahasiswinya berbusana muslim, sungguh perkembangan (simbol) Islam yang luar biasa selama 4 dekade ini. Hanya saja barangkali perkembangan sikap dan perilaku Islami belum paralel dengan perkembangan simbol Islami tersebut, meskipun tentu tidak semuanya.

Contoh kecil tentang disiplin menepati tanda-tanda lalu lintas di masjid, di kampus atau bahkan di luar kampus. Tanda-tanda lalu lintas (atau aturan umum pada umumnya seperti antri, dll) dibuat berdasarkan pertimbangan untuk kepentingan bersama dan hanya dengan cara itu maka kita bisa berlalu lintas dengan relative aman. Tentu harus ada hak individual yg dikorbankan, tapi rupanya pendidikan dini kita kelihatannya tidak meng­-cover hal fundamental seperti ini sehingga mindset yg tertanam adalah bagaimana mendahulukan kepentingan pribadi.

Apakah seperti ini Islami? Saya yakin tidak, karena Rasulullah saw bersabda: “Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Menanamkan  mindset  agar membuat diri kita bermanfaat untuk sesama adalah hasil suatu sistem pendidikan atau tiadanya sistem pendidikan. Tapi menyelesaikan persoalan seperti itu adalah masalah besar nasional, yang barangkali berada di luar control Manarul Ilmi.

Yang ada di dalam kontrol kita adalah bagaimana menciptakan iklim yang sesuai, karena cendawanpun hanya bisa tumbuh dan berkembang di musim hujan. Mayoritas jamaah Masjid Manarul Ilmi adalah mahasiswa, karena memang prosentase mereka lebih besar dibanding dengan dosen dan tenaga kependidikan. Setiap tahun selalu ada ribuan pendatang baru dari berbagai latar belakang, dan itulah tantangan yang paling berat setiap tahun: merubah sekian ribu anak-anak lulusan SLA menjadi remaja Islam dengan sikap dan perilaku Islami. Dan itu tidak pernah berhenti, kecuali tidak ada lagi mahasiswa baru masuk ITS.

Itulah tantangan paling utama untuk pengelola Masjid Manarul Ilmi. Kalau soal fisik barangkali tidak terlalu sulit, meskipun tidak selalu terlalu mudah. Butuh ruang meeting yang bagus? Tinggal pilih interior designer yang sesuai. Butuh taman yang bagus? Juga tinggal pillih arsitek dan tukang taman yang sesuai, dst, dst. Tapi yg paling sulit adalah sikap dan perilaku terkait dengan fasilitas-fasilitas yang bagus tersebut, baik dalam pemeliharaan maupun pemanfaatan. Misalnya, sudah disiapkan ruang kerja untuk mahasiswa yang memenuhi syarat, tapi karena dianggap seperti rumahnya maka yang ditaruh di almari adalah barang-barang pribadi sehingga yang terjadi adalah kekacauan storage. Masih banyak contoh lain.

Maka itulah, hal yang paling berat untuk Pengelola adalah merubah sikap dan perilaku jamaah (masjid goers) menjadi Islami. Merubah sikap dan perilaku bukan semudah membalik telapak tangan karena berkaitan dengan kebiasaan yang sudah menahun. Tapi barangkali kita tidak punya pilihan lain: pada akhirnya sikap dan perilaku itulah yang akan membawa perubahan peradaban seperti telah dibuktikan pada masa-masa keemasan peradaban Islam. Suatu saat mahasiswa yang santun, yang menjaga kebersihan dengan membuang sampah di tempatnya, yang tertib, dst sesuai nilai Islami --yaitu yang paling bermanfaat untuk sesama-- adalah jamaah Masjid Manarul Ilmi. Merekalah Ikon Islami kita, dan merekalah yang akan mengukir peradaban baru ke depan. InsyaAllah..... (AI)