2017-07 01

Islam adalah Islam, di manapun di bumi Allah

  • Mon 7th Jan 2013
  • Erin

Kota Cologne (bahasa Inggris) atau Köln (bhs Jerman) jadi tambah terkenal akhir-akhir ini karena muculnya masjid baru di kota tersebut yang direncanakan sejak tahun 2007. Kendati pada awalnya didemo oleh mereka yang tidak mengehendaki ada masjid cukup besar di kota itu, akhirnya lewat perjalanan cukup panjang telah menjadi kenyataan. Central Mosque of Köln, yang sudah digunakan untuk sholat Iedul Fitri tahun 2017 barusan ini, di mana saya salah satu dari jamaah di sana, barangkali adalah masjid termegah di Eropa saat ini yang konon pembangunannya menghabiskan antara 17-20 juta Euro (dalam rupiah sekitar 300 milyar), masih lebih murah dari harga sebuah kapal tanker yg panjangnya sekitar 150 m.

Köln adalah kota dengan jumlah penduduk nomer empat di Jerman sesudah Berlin, Hamburg dan Munich dengan penduduk sekitar 1 juta orang dan populasi muslim sekitar 12% kebanyakan keturunan Turki. Arsitek masjid ini Paul Böhm non-muslim yg biasa mengerjakan gereja. Biaya sebagian besar diberikan oleh Pemerintah Turki disamping 800 ratusan lebih organisasi donatur, konon termasuk Gereja Katolik ikut mendukung. Pada tahun 2008 akhirnya disepakati oleh Cologne City Council (Dewan Kota Cologne) untuk membangun masjid tersebut kecuali satu partai tidak setuju yaitu partai Christian Democrats.

Saya sedang berada di Den Haag menjelang akhir Ramadhan ini, yang hanya sekitar 3 jam drive dari Köln, sehingga memutuskan untuk sholat Ied di sana, karena kesempatan yang sangat langka sholat Ied pertama di masjid paling megah di Eropa. Kami dari penginapan langsung menuju masjid karena ingin buka puasa di masjid dan sholat Magrib di sana, sholat Magrib hari terakhir Ramadhan 1438 ini. Sampai di masjid masih sekitar 1 jam-an sebelum buka puasa. Karena musim panas jadi masih sangat siang meskipun jam sudah menunjukkan sekitar pukul 21.00 malam.

Saya agak heran, karena masjid masih sepi. Tapi juga beruntung karena dengan demikian bebas ambil foto kesana kemari tanpa banyak gangguan. Kesan pertama saya, arsitekturnya memang masih ada tanda-tanda arsitektur Ottoman Turki, tapi juga lain sama sekali. Kalau kita ke Turki, maka arsitektur masjid menunjukkan kemiripan dengan dome besar, dan hampir selalu diapit oleh dua menara yang bentuknya seperti pensil. Kesan dome memang ada di sini, juga dua menara setinggi sekitar 60 m, akan tetapi menurut penglihatan saya sepenuhnya modern. Menaranya sama sekali tidak menunjukkan bentuk pensil. Pada awalnya sebagian orang Jerman menghendaki menaranya agak pendek, tapi arsiteknya bersikeras setinggi itu agar seimbang dengan masjidnya, dan itulah yang terjadi.

Memang terlihat lingkungan belum sepenuhnya selesai, kecuali tempat untuk sholat (dan tempat sandal-sepatu), bahkan ruangan wudlu masih separo yang selesai. Konon nanti akan ada ruangan2 sekuler di mana setiap orang tidak pandang apa agamanya bisa masuk, akan ada bazaar dan pintu masuk di lantai dasar, ruang meeting (lecture hall) di basement, perpustakaan Islam, dan lain-lain yang masih dalam tahap pengembangan. Kami masuk dari tempat parkir khusus masjid underground yang cukup luas, namun akses utama masjid adalah pintu masuk dengan tangga yang cukup lebar dan panjang dari jalan raya sehingga mengundang orang untuk berkunjung.

Dan memang itulah konon salah satu tujuan masjid terbesar di Eropa ini, mengenalkan Islam pada siapa saja yang berminat sehingga kosepnya dibuat open and inviting, mengundang orang untuk datang dan mengenal Islam. Bukankah memang begitu seharusnya Islam? Saat ini bisa menampung sekitar 2.000 jamaah yang dengan kondisi tertentu bisa sampai 4.000 karena lantai bawah bisa digunakan.

Kembali kenapa kok tadi sepi menjelang Magrib. Eh ternyata semua orang menunggu buka puasa di gedung yang ada di sebelahnya berjalan hanya 2 menit-an. Kami masuk melalui cheff yang membagi makanan (dipisahkan antara lelaki dan perempuan), sambil menunggu jam berbuka. Karena kami agak terlambat masuk langsung makan, bersama sejumlah sekitar 1.500 orang menurut perkiraan saya. Suasana Eropa memang lebih dominan ketimbang suasana Arab, wanitanya banyak yang berhijab tapi juga banyak yang tidak berhijab.

Setelah selesai makan baru kami semua menuju masjid, saya tidak tertinggal satu rakaatpun sholat Magrib meskipun Imam sudah memulai sholatnya waktu tiba di masjid. Berbagi sedikit cerita lucu terkait detail ibadah. Seperti kebanyakan di Eropa, sebagian besar adalah pengikut madzab Hanafi. Waktu sholat Ied di masjid baru Koln-Jerman hari Ahad kemarin, meskipun bukan yg pertama sholat Ied di Eropa anak2 (dan saya) masih saja agak keliru meskipun sudah di-ingat2:

1. Rakaat pertama tidak berbeda dari Syafií, takbir dahulu (5x kalau Hanafi) baru Imam baca Fatihah. Rakaat kedua, Imam baca Fatihah dahulu baru takbir. Anak2 rupanya begitu dengar takbir otomatis langsung diteruskan dengan rukuk dan sujud. Lha baru sadar pada waktu sujud, kok semua orang masih takbir dan berdiri, jadi ya mereka berdiri kembali.

2. Selesai Imam membaca surah Al Fatihah, sama diikuti jamaah mengatakan "aamiin", bedanya suaranya pelan. Lha saya karena baru sadar setelah separo, "aa" nya paling keras sendiri semasjid ''miin" -nya baru volumenya sama. Alhamdulillah, selain detil2 kecil dalam fiqih, Islam sama di manapun di bumi Allah....

(Catatan Perjalanan AI)

JADWAL SHALAT