2016-11 08

Perbanyak Pujian, Kurangi Meminta

  • Mon 7th Jan 2013
  • Erin

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” (QS. al-Ahzab: 41)

Mengingat Allah dan Rasul-Nya memberi kesempatan bagi seorang hamba agar tidak tergelincir lisannya untuk menyebut kekurangan saudara, istri, suami, anak, ataupun guru-guru kita. Sebab menyebut aib orang itu cela bagi orang Muslim.

Dalam hati seorang Mukmin juga tidak luput untuk tidak memafkan orang lain. Sebab hati yang masih tersimpan rasa dendam dan sakit hati adalah hati yang kotor dan itu pula yang menghalangi tabir yang menyingkap antara kita dan Allah. Maka, maafkan jika masih ada orang yang membuat kita sakit hati dan sebelumnya belum dimaafkan. Memang, menghilangkan rasa sakit itu adalah pilihan berat karena itulah pertanda untuk mengetahui apakah kita termasuk Muslim yang baik atau tidak.

“dan bertasbishlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. al-Ahzab: 41)

Sucikan nama Allah agar kita tahu bahwa yang suci hanyalah Allah. Selain Allah, tidak ada yang suci kecuali para nabi dan rasul. Sucikan nama Allah supaya kita tidak menganggap bahwa kita-lah yang paling suci sedang yang lain kotor. Supaya tidak ada celah untuk menjelek-jelekan orang lalu mensucikan dirinya sendiri. Lakukanlah selama pagi dan sore selama hidup Anda.

Ada tasbih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi, subhaanallaahi wabihamdihi ‘adada kholqihi wazinata ‘arsyihi wa ridhaanfsihi wa midaada kalimaatih. Artinya, “Maha Suci Allah dan pujian bagi-Nya: sebanyak bilangan makhluk-Nya, serela diri-Nya, setimbangan ‘Arsyi-Nya dan sebanyak (tinta) kata-kata-Nya.”

Sepanjang hidup, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya memuja, memuja, memuja, memuja dan tanpa sedikitpun meminta. Muhammad Awwam menulis Hadits Qutsi yang diriwayatkan al-Hudz, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan Allah berfirman, “Siapa yang menyibukkan dirinya membaca al-Qur’an, berdzikir kepada-Ku sampai dia lupa tentang kebutuhan dirinya tidak meminta apa-apa. Maka orang itu akan Aku beri lebih banyak, lebih mulia daripada orang-orang yang terus-terus meminta.

Mengapa orang seperti itu lebih baik? Karena orang-orang yang meminta lebih mengedepankan hak-hak dirinya sendiri. Sementara orang-orang yang tidak meminta adalah mereka yang mengedepankan hak-hak Allah.

Sebagai ilustrasi, ada dua orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Thailand. TKI pertama selalu meminta gaji lebih kepada majikannya, dan majikannya selalu dermawan sehingga selalu memberi bonus. Sedangkan TKI kedua tidak pernah minta bonus, akan tetapi dia fokus kerja, kerja, dan kerja yang bagus.

Lalu, pembantu kedua itu pulang setelah 6 tahun bekerja dan tidak kembali menjadi TKI. Dia kemudian diberi oleh majikan itu biaya pesta sebanyak lebih dari 10 kali dari ukuran pesta masyarakat Indonesia pada umumnya. Lalu diberi angpao merah dengan tulisan khusus untuk bulan madu.

Hadiah yang diberikan oleh majikan TKI kedua tersebut jauh lebih banyak dari bonus yang diberikan oleh majikan TKI pertama kepada pembantunya. Lalu, kita termasuk pembantu yang pertama atau kedua? Diri kita sendiri yang bisa mengukurnya. Tetapi, jangan meniru kedua-duanya.

Kalau kita tidak meminta dan tidak berdoa kepada Allah, maka Allah akan murka. “Berarti Anda tidak butuh Aku!” kata Allah.

“Barang siapa yang tidak berdoa kepada-Ku, maka Aku marah kepadanya.” Kata Allah kembali.

Namun jangan seperti pembantu pertama yang selalu minta bonus. Sebab kalau kita mengedepankan hak kita untuk meminta, lalu pemujaan kita berkurang. Maka, secara tidak sadar kita telah mengubah Surah al-Fatihah.

Kita lihat struktur al-Fatihah, dengan tujuh ayat yang di dalamnya hanya terdapat satu ayat yang berisikan doa. Sisanya adalah ayat yang berisikan pujian kepada Allah. Itu berarti kita diisyaratkan untuk memperbanyak pujian kepada Allah daripada memperbanyak meminta.

Kalau kita mengedepankan meminta dan sedikit memuja maka kita harus malu pada Amrun bin Husein. Amrun pernah berkata, “Wahai Allah, mengapa tidak engkau ciptakan aku sebagai debu saja? Lalu hilang ditelan angin. Mengapa? Karena aku kehabisan kata dan daya untuk mengagungkan Allah. Aku kehabisan kata bagaimana mengagungkan kebesaran dan keagungan Allah. Aku tidak punya daya dan kata lagi bagaimana menjabarkan luasnya kasih sayang dan ampunan Allah.

Kalau kita meminta terus dan sedikit pemujaannya, sedikit bacaan al-Qur’an-Nya, sedikit baca takbir-Nya. Kita harus malu pada Ibnu Athaillah yang menuliskan dalam kitabnya. Ia mengatakan, “Orang Mukmin sejati adalah orang yang selalu memuji Allah karena syukur sampai dia lupa meminta sesuatu kepada-Nya. Bukan orang yang mencintai jika orang tersebut mengharap sesuatu dari yang dicintai. Atau mengharap sedikit sesuatu imbalan dari yang dikasihi. Kalau engkau benar-benar cinta, tunjukkan bahwa engkau itu memberi, jangan kau tunjukkan engkau cinta tapi mengharap.

Maka, perbanyaklah pemujaan dan kurangilah porsi meminta kepada Allah. Jangan dibalik seperti sekarang ini. Kita kalau meminta sambil menangis, tetapi kalau memuja tidak sampai begitu. Jangan terlalu lama meminta sedang kita sedikit baca al-Qur’an-Nya, sedikit pemujaan untuk-Nya. Ya, kita kembali kepada asas al-Fatihah, iyyakanakbudu waiyyakanastain yang artinya “Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Ce)

Khutbah Jumat, 8 April 2016, Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya

Khotib: Prof. Ali Aziz (UIN Sunan Ampel Surabaya)

JADWAL SHALAT