Santri Identik dengan Ndeso dan Amerika Simbol Kemajuan?

Ketika saya kecil, santri itu identik dengan symbol keterbelakangan dan kemiskinan. Meskipun sekarang saya bisa memberikan rational mengapa begitu (tulisan menyusul), tapi waktu itu tentu tidak demikian. Ini membekas cukup lama, bahkan ada periode dimana menjadi santri bukan sesuatu yang membanggakan. Waktu itu sekolah yang bagus biasanya sekolah Kristen, sedikit sekali sekolah Islam yang bisa dibanggakan. Anak-anak muslim jarang sekali diajari tentang peradaban Islam yang bisa dibanggakan, yg pernah memimpin dunia serta menjadi pondasi dari ilmu pengetahuan dan teknologi sampai sekarang ini. Islam yg saya pahami “hanya” berkisar tentang ngaji, sholat, dan puasa. Sejarah Islam biasanya berhenti pada Nabi Muhammad lahir di Mekah, ibunya Siti Aminah, ayahnya Sayid Abdullah, lahir pada tahun gajah.

Saya hanya sekolah sampai kelas 3 SR (Sekeloh Rakyat, sekarang SD) di desa Pati sebelum pindah dan menyelesaikan SR di Semarang. Untuk membuat cerita jadi pendek, saya akhirnya lulus dari ITS Jurusan Teknik Perkapalan. Dalam bahasa sekarang barangkali pendidikan saya dari awal lebih cenderung pendidikan “sekuler”, jarang sekali anak keluarga muslim taat yang ke Universitas negeri, karena trauma dengan sekolah negeri warisan penjajah. Ternyata periode itulah dimulainya gelombang anak-anak keluarga santri masuk perguruan tinggi sehingga Islam semakin mewarnai perguruan tinggi dan kelas menengah sampai sekarang ini.

Saya direkrut menjadi dosen oleh Dekan mungkin karena nama saya yang Islam (dekannya waktu itu P.Fatchurrochim Murtadho, anaknya Kiyai Manaf Murtadho yg sesepuh masjid Kemayoran Surabaya). Tahun 1978 saya dikirim sekolah ke Amerika pulang tahun 1984. Saya benar2 sendirian mulai berangkat dari Indonesia sampai ke Madison, kota pertama di Amerika yang saya injak sebelum besoknya melanjutkan ke Ann Arbor di negara bagian Michigan, tempat saya tinggal selama 6 tahun sesudahnya. Pada waktu itu teknologi di Amerika sudah seperti Indonesia sekarang ini: ATM, mall, supermarket, alat2 elektronik yg memudahkan hidup, telpon, dll (meskipun belum ada HP, internet, personal computer apalagi laptop, tablet dan konco2-nya belum ada sama sekali). Maka yang terjadi adalah kejutan budaya (cultural shock).

Wawasan dan bacaan yg masih terbatas membuat saya mudah sekali terpesona dengan pemikiran sekuler karena pengetahuan saya tentang Islam memang terbatas sekali. Kapitalisme yang dianut dan dipraktekkan Amerika bisa saya rasakan sehari-hari. Saya mengalami sendiri (menurut pemahaman waktu itu) bagaimana ideology itu bisa membuat Amerika loh jinawi dan adi daya di dunia. Saat itu Amerika pada puncak kejayaannya, benar2 negara gemah ripah di mata saya yang udik ini.

Sampai ketika Timur Tengah menggunakan minyak sebagai alat politis utk menekan Amerika. Maka saya merasakan bagaimana harus antri membeli minyak di pom bensin karena giliran nomor mobil ganjil dan genap. Sejak itulah Presiden Reagan naik tahta Amerika karena dipersepsikan sebagi pemimpin yang akan mendahulukan Amerian Interest di seluruh dunia. Waktu itu Rano Karno masih pemain film anak-anak dan secara guyonan nanti suatu saat para bintang film di Indonesia juga akan mengikuti jejak Reagan (yg mantan bintang film Holywood itu), menjadi politisi. Guyonan yang tidak menyangka sama sekali akan benar-benar menjadi kenyataan...

(Catatan Perjalanan AI)