2017-06 24

Wong Ndeso yang Jadi Muadzin di Masjid Den Haag, dan Gelapnya Pendatang Gelap di Belanda

  • Mon 7th Jan 2013
  • Erin

Perkenalan saya dengan Ridho (bukan nama sebenarya) terjadi 2 tahun lalu, ketika pembersih rumah anak kami yg wong Solo cerita kalau temannya orang Pati nyaris terkena razia polisi Belanda. Saya lantas tertarik utk ketemu, barangkali dia bisa memberi gambaran potret pendatang ilegal di Belanda. Sejak itu saya selalu ketemu dia kalau pas di Den Haag. Ridho adalah hafidz jebolan Pondok Pesantren Matolek santri Kiyai Sahal (alm), Cah Pati asli. Ceritanya sampai di Belanda sungguh mengharukan karena korban penipuan sesama muslim. Sebelum ke Belanda, kota terjauh yg pernah dikunjunginya adalah Jepara. Sampai dengan saat ini dia sudah tinggal di Belanda selama 6 tahun (usia Ridho sekarang sekitar 29 tahun).

Namun dia bersyukur masih konsisten bisa melakukan murajaah setiap malam untuk menjaga hafalannya,  katanya teman2 dia yang kerja di Timur Tengah justru hilang hafalannya. Dia tinggal dekat masjid Indoneisa Al Hikmah di Den Haag dan menjadi muadzin serta ngajari anak-anak sholawat dan main rebana. Ibu-ibu menganggapnya “aset” masjid sehingga diharap jangan cepat pulang ke Indonesia.

Tersebutlah ada penyalur tenaga kerja yang konon bisa memberangkatkan tenaga ke Belanda dengan gaji sekitar Rp. 70 juta per bulan. Bagaimana dia tidak percaya karena ada orang yang dia kenal memberi kesaksian bahwa dirinya sudah mengalami sendiri. Dengan pinjaman keluarga dan sana-sini terkumpullah uang Rp 50 juta sebagai “mahar” untuk bisa berangkat yang harus dibayar di depan. Namun sungguh tragis apa yang terjadi kemudian. Setelah sampai di lapangan terbang Sciphol-Amsterdam, dia ditinggal begitu saja di bandara tersebut!

Ketika mendengar ceritanya, saya sungguh merinding, manusia macam apa yang bisa melakukan hal seperti itu, apalagi kalau dia seorang muslim. Saya kembali ingat diri saya ketika pertama kali ke Amerika, saya sdh belajar bahasanya, sudah tahu apa yang harus dilakukan setiba di sana, pendek kata sudah dengan persiapan yang cukup lama sebelum berangkat. Lha Ridho ini ditinggal begitu saja di bandara, yang manusianya asing, bahasanya asing, iklimya asing, tempatnya asing. Dia hanya bisa menangis. Singkat cerita ada yang belas kasihan, numpang sana numpang sini, kerja apa saja asal bisa bertahan hidup.

Dengan berjalannya waktu, dia bisa bekerja di sector informal seperti bersih-bersih rumah, memelihara taman, pokoknya pekerjaan serabutan apa saja asalkan halal dan menghasilkan. Tentu dia tidak dilengkapi dengan dokumen ijin tinggal, visa (ijin tinggal di suatu negara) hanya berlaku tiga bulan sehingga dia menambah daftar panjang pendatang “gelap” di Belanda sini. Kalau dihitung dengan angka Indonesia, gaji per jamnya memang  menggiurkan, sekitar 12 Euro per jam (dengan kurs sekitar Rp. 15.000,- per Euro berarti Rp. 180.000,-/jam!). Di Eropa dan Amerika tidak ada budaya pembantu kecuali orang yang benar-benar kaya. Untuk membersihkan rumah mungkin hanya perlu menggaji tenaga sekali dalam satu minggu atau bahkan dua minggu, selama 3 jam-an.Tapi biaya hidup di sini juga tinggi, dan tidak selalu dia bisa mendapat kerjaan rutin.

Sebagai contoh, sewa kamar bisa Eur 600/bln, biaya transport juga mahal meskipun transportasi umum begitu mudahnya tersedia. Utk pekerja legal transportasi dari dan ke tempat kerja disubsidi penuh. Si Muriel (anak saya) contohnya, dia kerja di Amsterdam ketika dulu tinggal di Den Haag biaya transportnya per bulan bisa sampai Eur 400/bln dan diganti semuanya. Orang Belanda ke mana-mana naik sepeda, tapi tetap saja ada batasnya yg bisa ditempuh dengan sepeda terutama kalau musim dingin. Belum lagi potensi terkena razia, meskipun Polisi Belanda sebenarnya pura-pura tidak tahu kecuali ada yang melaporkan atau terlibat masalah (kelihatannya beda dg tetangga Malaysia), mungkin karena Belanda merasa berutang budi pernah menjajah Indonesia.

Cerita yang dialami Ridho hampir sama dengan beberapa pekerja gelap yang saya ketemu, meski dengan variasi yang berbeda. Mereka tidak mungkin kembali ke Indonesia sebelum mendapat tabungan yg cukup karena begitu di Indonesia dia tidak akan bisa kembali karena namanya sudah masuk daftar hitam imigrasi Belanda. Meskipun saya tidak punya data statistik, tapi cukup safe utk mengatakan bahwa pekerja ilegal paling banyak dari Indonesia ada di Belanda (lainnya barangkali Malaysia, Saudi Arabia). Di mana-mana memang bumi Allah, namun sangat menyakitkan kalau kita harus terdampar di suatu tempat akibat penipuan yang dilakukan oleh sesama muslim. Moral ceritanya barangkali jangan percaya begitu saja tentang segala iming-iming yang tidak masuk akal tanpa ada verifikasi yg bisa bisa dipertanggungjawabkan...... PS: Saat ini dia sudah memutuskan balik ke Indonesia untuk menikah.

(Catatan Perjalanan AI)

JADWAL SHALAT