2017-07 10

Balada Mbah Sarah dan Mbah Christel

  • Mon 7th Jan 2013
  • Erin

Mbah Sarah dan Mbah Christel sama-sama berusia lanjut, yang pertama berusia sekitar sembilan puluhan lebih (bahkan mendekati seratus), yang kedua berusia sekitar depalan puluhan lebih. Keduanya sama-sama janda dan tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Namun disitulah kesamaan itu berhenti. Mbah Sarah tinggal di suatu desa di Pati, Indonesia dan Mbah Christel tinggal di Den Haag, Belanda.

Mbah Sarah adalah tetangga saya di desa sekitar 12 km sebelah selatan kota Pati. Dia tidak punya apa-apa, menetap di tanah tetangga dan dibuatkan gubug oleh tetangga pada tanah tersebut. Dia masih bisa menanam pohong dan sejenisnya di lahan sekitar gubugnya. Untuk makan sehari-hari juga mendapat bantuan dari tetangga. Tapi masih terlihat aktif dan sehat wal’afiat. Sangat jelas lingkungannya masih agraris.

Mbah Christel adalah tetangga anak saya, tinggal di apartemen yang cukup memadai, dan dia mempunyai semua fasilitas standar yang diperlukan (bahkan mungkin lebih), hidupnya ditunjang oleh negara termasuk asuransi kalau dia sakit. Hanya sehari-hari dia selalu ada di dalam apartemen karena akhir-akhir ini kesehatannya sudah agak mundur. Pergi ke gereja seminggu sekali tapi di luar itu kelihatannya tidak ada komunitas sosial dimana dia menjadi bagian aktif di dalamnya. Lingkungannya jelas sangat urban.

Pada suatu saat ada ambulans di jalan dekat apartemen (dia tinggal di lantai 2 yang dilengkapi fasilitas lift), rupanya dia sakit dan menelpon ambulans sendiri. Karena apartemennya di depan apartemen anak saya, maka dia yang pertama datang  ke sana karena mengganggap seperti kalau di Indonesia dalam kondisi seperti itu tetangga akan datang. Eh ternyata selain dia hanya ada satu orang lagi yang datang. Rupanya mereka berpikir bahwa itu sudah ada yang mengurusi sehingga kedatangan mereka tidak diperlukan atau bahkan cenderung mengganggu.

Sampai saat ini dia masih berusaha untuk tidak tinggal di panti jompo sampai pada suatu saat dia tidak punya pilihan lain lagi. Sekarang dia masih bisa belanja kebutuhan hidup ke mall sendirian, maka ketika sudah tidak mampu lagi rupanya dia harus tinggal di rumah jompo. Itu berlaku bukan karena dia tidak punya siapa-siapa, tapi memang begitulah kondisi orang-orang tua di budaya Barat. Anak-anak yang sudah dewasa sibuk dengan kehidupannya sendiri sehingga tidak mungkin untuk merawat orang tuanya, maka secara rasional opsinya adalah menyerahkan mereka pada institusi.

Saya jadi ingat omongan Ronald Reagan almarhum, yang pada waktu itu dia adalah Presiden Amrik. Katanya salah satu kegagalan Western Culture adalah perlakuan mereka terhadap senior citizen. Di belahan dunia lain yaitu Asia, semakin tua kita akan semakin dihormati tapi di Barat semakin tua kita semakin tidak produktif sehingga tidak ada kontribusi terhadap masyarakat, karenanya secara sosial hidup mereka tersisihkan.

Saya jadi teringat ketika beberapa bulan pernah tinggal di Berlin. Waktu itu perang dingin dianggap belum usai sehingga ada Berlin Barat dan Berlin Timur. Keduanya dibatasi oleh tembok Berlin yang dulu sangat terkenal itu sebelum dirobohkan. Maknanya, di Berlin (Barat) tidak ada lagi penambahan tempat tinggal karena dibatasi tembok dan tidak bisa lagi ada penambahan ruangan. Seorang teman anak muda Jerman waktu di jalan melihat orang tua menyeberang, guyonanannya adalah kalau kita menabraknya maka akan tersedia satu ruangan tempat tinggal. Itu guyonan memang, tapi kira-kira begitulah suasana hati mereka.

Lantas, bagaimana sistem yang paling baik untuk memperlakukan senior citizen? Setiap orang akan menjadi tua, kecuali meninggal pada usia muda, sehingga mestinya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan untuk setiap orang. Amrik lebih parah dibanding Eropa, rata-rata negara Eropa menganut welfare state sedang Amrik lebih murni kapitalis, meskipun secara umum peradaban Barat tidak jauh berbeda. Di Asia –paling tidak sebelum negara China seperti sekarang ini— orang tua menjadi tanggungan anaknya, kecuali seperti Mbah Sarah yang tidak punya siapa-siapa tadi. Begitulah budaya Timur, yang muda secara budaya memang disiapkan untuk itu.

Tapi kondisi itu berubah total ketika selama tiga dekade ini China menerapkan urbanisasi masal dengan merubah hampir semua desa menjadi kota dan proses itu masih berlangsung terus sampai sekarang, karena berbasis sistem itu mereka bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara yang sangat luar biasa itu. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah modernisasi akan berujung pada menyingkirkan mereka yg tidak produktif (baca: senior citizen) ke rumah jompo? Sebenarnya dua kekuatan utama Indonesia adalah pertanian dan maritim (kelautan). Kalau itu bisa ditangani dengan memanfaatkan cara-cara modern yang sustainable dan tidak meracuni lingkungan, mestinya bisa menjadi jalan keluar meskipun tidak harus menjadi “world class”. Allahu a’lam....

(Catatan Perjalanan AI)

JADWAL SHALAT