2017-07 03

Ketemu di Spanyol, bule itu berkulit putih dan bermata biru, tapi bersorban berjubah dan berjanggut panjang

  • Mon 7th Jan 2013
  • Erin

Namanya Yasin Maymir, asli Spanyol meski Ibunya dari Itali dan Bapaknya dari Amerika Latin. Saya mengenal lewat anak2 kami yang di Eropa, tapi ndilalah dia datang ke Indonesia atas sponsor perusahaan Travel dan memberikan ceramah diantaranya di UIN Surabaya. Dia generasi kedua muslim karena Bapak&Ibunya sudah muslim. Ketemu pertama di sana, kemudian tertarik nginap di rumah Joglo-Keputih sehingga dia tidak keberatan ketika saya minta untuk memberikan kuliah shubuh di Masjid Manarul Ilmi ITS. Tampilannya sangat Eropa, mata biru dan kulit putih. Dia mempunya biro travel untuk kunjungan ke Andalusia dan sangat paham dengan sejarah Islam Andalusia yang luar biasa itu. Waktu itu kami baru rencana mengunjungi Andalusia, yang kemudian menjadi kenyataan di tahun yang sama dengan Yasin sebagi full-guide selama di sana.

Meskipun kita secara sama-samar sudah tahu kontribusi Islam utk peradaban dunia dan menjadi dasar berkembangnya ilmu pengetahuan di Barat dan sebaliknya juga agak paham tentang penyebab runtuhnya peradaban Islam tersebut, obrolan Yasin di Manarul Ilmi menyentak kembali memori lama tentang hal tersebut. Bagaimana tidak? 
Ketika Eropa masih dalam kegelapan, jalan-jalan di Andalusia (Spanyol Islam) sudah terang benderang
Ketika seluruh Eropa belum ada jalan raya, semua jalan-jalan di Andalusia sudah pavement dengan batu
Ketika Eropa belum tahu bagaimana buang hajat, Andalusia sudah mempunyai pemandian air panas untuk publik
Ketika jumlah manuscript di seluruh Eropa hanya beberapa ratus, sudah ada perpustakaan di Andalusia dengan ribuan manuscript. Dan lain-lain, dan lain-lain.....
 
Abdur Rahman III menyatakan diri sebagai Khalifah yang pertama di Andalusia pada abad ke 10 ketika Khalifah Abbasiyah di Bagdad sudah lemah, yang sebelumnya adalah Emir sejak Tarik Bin Ziad menaklukkan Andalusia pertama kali. Pada waktu itu populasi Islam sekitar 80%, bukan karena dipaksa pindah agama tapi masyarakat melakukannya dengan sukarela karena apa yang bisa ditawarkan oleh Islam, barangkali seperti Nusantara ketika terjadi perpindahan agama dari Hindu ke Islam.
 
Pada waktu Abdur Rahman III itulah masjid Raya Cordoba diselesaikan yang bisa menampung sekitar 30.000 jamaah, ketika rata-rata jumlah penduduk di kota-kota Eropa baru sekitar 7.000 orang. Pada waktu itu juga Ibu kota dibangun sekitar 5 km dari Cordoba dan diberi nama Madinat Al Zahra. Tahun 2015 ketika saya berkunjung ke sana, penggalian lokasi tersebut baru selesai separo tapi sementara dihentikan karena kondisi ekonomi Spanyol yang kurang baik, meskipun proses itu didanai juga oleh badan2 internasional, karena oleh PBB masuk dalam World Heritage dan tentu saja menjadi daya tarik turisme yang luar biasa yang selama berabad-abad ini terabaikan.
 
Sayang sekali, sesudah Abdur Rahman III itu mulai terjadi perpecahan karena intolerance terkait dengan detil agama. Kekhalifahan yang sangat kuat itu akhirnya terbagi dalam lebih dari 25 Emir yang berperang berebut pengaruh satu dengan lainnya, sehingga lama-lama semakin lemah. Puncaknya terjadi ketika benteng terakhir Islam Alhambra di Granada jatuh ke tangan raja Ferdinand dan ratu Isabella tahun 1492. 
 
Ketika Abu `Abdallah Muhammad XII atau Boabdil menyerahkan kedaulatan ke Ratu Isabella&raja Ferdinand mereka mengenakan jubah Arab karena itu adalah pakaian paling trendy dan bergengsi pada jamannya. Ketiga Penguasa itu menandatangani kesepakatan bahwa Islam tetap diperbolehkan dijalankan oleh rakyat yg 80% adalah muslim, menara-menara di masjid-masjid tetap bebas menyampaikan panggilan sholat dan kegiatan agama bebas seperti biasanya. Jadi ketika terjadi perpindahan kekuasaan, mayoritas rakyat Spanyol (Moorish) adalah muslim. Ada dua istilah muslim pada waktu itu, Moor adalah muslim keturunan Arab, Moorish adalah muslim keturunan Spanyol. Tapi sejarah mencatat lain, berangsur sesudah itu muslim dipaksa oleh Penguasa Kristen untuk mengganti agamanya dan kemudian Islam hilang sama sekali setelah generasi berikutnya. Sejarah juga mencatata bahwa inkuisisi dimulai di Spanyol.
 
Kembali ke Yasin, ketika kami berkunjung ke rumahnya di seberang Al Hambra, istrinya Fatimah juga muslim (juga bule asli) dengan dua putri yang masih kecil-kecil. Yang mengejutkan saya mertuanya adalah mursid dari sufi Naqsabandi Haqqani yang mempunyai masjid dengan jamaah di suatu desa di Granada. Kami sholat Iedul Adha di sana, di masjid agak kecil dengan jamaah sekitar 150 orang. Mertua Yasin adaah bule asli bermata biru, tapi bersorban, berujubah dan berjanggut panjang. Menurut ceritanya mereka dulunya adalah kaum hippies yang kemudian tertarik Islam lewat sufi karena ajaran kasih saying yang yang dominan tersebut. 
 
Memang Islam di Spanyol saat ini adalah minoritas yang dahulunya pernah mayoritas. Kita perlu menarik pelajaran dari pengalaman sejarah seperti ini sehingga kita tidak mudah saling menyalahkan sehingga tidak mudah diadu domba. Kalau pada saatnya setiap orang paham bahwa setiap muslim merefleksikan rahmatan lil alamin, bukankah itu cara paling cepat untuk memperkenalkan Islam untuk kebaikan bersama?
 
(Catatan Perjalanan AI)
JADWAL SHALAT